Longsoran Batu Hantam Rumah

PONCOL – Mimpi Lamiyem, 80 saat tengah terjaga pada Rabu (18/1) pagi lalu, semburat seketika. Nenek asal Dusun Templek, Desa Gonggang, Kecamatan Poncol, Magetan itu spontan beranjak dari tempat tidurnya setelah bongkahan batu segede kepala orang dewasa, menghantam kaca jendela kamarnya. Tak berlangsung lama, susulan batu dan gundukan tanah ikut menghantam jendela kamarnya hingga pecah.

Pemandangan itu terjadi pada Rabu (18/1) pagi buta lalu di rumah Lamiyem. Meski sebelumnya tak terjadi hujan deras, namun gundukan tanah dari samping selatan rumahnya tiba-tiba saja bergerak dan menghantam tembok berikut jendela kamar Lamiyem itu. ‘’Suara awalnya itu pyarr..!! Kaca jendela saya pecah dan batu cukup besar sudah di dalam kamar. Ya saya kaget langsung minta tolong. Puluhan tahun saya tinggal di rumah ini, kejadian ini tidak pernah terjadi,’’ kata Lamiyem saat ditemui Radar Magetan, kemarin (19/1).

Tak berangsur lama, setelah jendela dihantam bongkahan batu dan tanah, tembok kamar Lamiyem juga langsung retak. Diduga, keretakan itu lantaran tak kuat menahan tekanan tanah yang longsor itu. ‘’Akhirnya kami keluar dan beberapa barang yang dekat dengan tembok ibu, kami pindahkan,’’ ungkap Winarsih, 45, anak Lamiyem.

Usai kejadian itu, warga setempat langsung melakukan evakuasi. Dinding yang retak itu di-panthek dan atap di sekitar tembok tersebut diberi tiang dari bambu petung. ‘’Memang siangnya itu (Selasa (17/1)) sempat hujan. Tapi malam harinya sudah terang. Nah ini tiba-tiba pagi hari malah longsor,’’ kenang Winarsih.

Di rumah yang tak begitu besar itu, Winarsih mengaku ada enam orang yang tinggal. Yakni dirinya bersama suaminya, Sumardi, kerabatnya Samidi dengan istrinya Hartatik dan satu anaknya Oki. Termasuk mbah Lamiyem itu sendiri. Rumah tersebut berada cukup pelosok di Kecamatan Poncol, atau sekitar 35 kilometer dari pusat kota Magetan. Dengan kondisi jalan akses yang cukup berkelok, kondisi itu seolah menjadi penghambat mimpi Winarsih untuk didatangi pejabat.

Yang terang, mengetahui tempat meretas cinta mereka diterjang longsor, Winarsih mengaku hanya bisa pasrah. Dia hanya mampu mengungkapkan keinginannya untuk bisa membangun lagi rumah itu lebih baik dan kuat. ‘’Tapi ya mbangunnya nunggu kalau ada bantuan. Saat ini kami belum mampu untuk membangunnya sendirian,’’ iba Winarsih yang kesehariannya hanya berprofesi sebagai pengenyam tikar rumput tradisional ini. (wka)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: