Lemah Pengawasan Orang Tua

MAGETAN – Meroketnya angka tindak kriminalitas yang melibatkan anak-anak di Magetan, menuai respon Dewan Pendidikan (DP). Meski tak menjadi bagian langsung dari bagian pembentukan konstruksi mental anak-anak, DP dinilai membawa peran utama dalam proses pendidikan anak di Magetan. Apalagi, usia para pelaku kriminal cilik tersebut mayoritas berstatus pelajar.

Ketua DP Magetan Syahrir mengaku jika rilis data dari Sub Bag Humas Polres Magetan mengenai tingginya angka kriminalitas anak tersebut mengundang keprihatinan pihaknya. Dia menuding, lemahnya pembinaan dan pengawasan dari orang tua, menjadi pemicu utama hasrat anak-anak untuk berbuat kriminal. ‘’Gaya hidup tinggi, pergaulan bebas, dan pesatnya arus globalisasi, seperti mudah menjadi faktor pemicunya. Termasuk, pembinaan dan pengawasan orang tua yang lemah,’’ kata Syahrir, kemarin (17/1).

Selain itu, lanjut dia, maraknya peredaran miras, narkoba dan judi hingga di pelosok sekolah, juga seperti minim filterisasi. ‘’Artinya, memang pelajaran agama atau budi pekerti luhur yang diajarkan sekolah, belum mutlak mampu membentuk pribadi anak-anak seperti yang diharapkan,’’ terangnya.

Menurutnya, perlu ada penanganan serius untuk membentuk mental generasi penerus di Magetan itu. Dia berharap, bupati Sumantri segera memanggil pihak-pihak yang bertanggungjawab terhadap pembinaan anak-anak dan remaja Magetan. Sehingga, angka kriminalitas anak tidak terus merangkak naik. ‘’Tentunya data tingginya angka kriminalitas anak ini harus segera dilakukan respon pihak-pihak terkait. Karena tentu kita tak ingin anak-anak Magetan banyak yang terpaksa putus sekolah atau dicap negatif lantaran bertindak kriminal,’’ harapnya.

Sebagaimana diinformasikan sebelumnya, angka kriminalitas yang melibatkan anak-anak di Magetan melonjak tajam. Pencurian dengan pemberatan (curat) menjadi jenis tindak pidana terbanyak yang seringkali dilakukan. Sedangkan untuk korban tindak pidana yang masih berstatus anak, jenis tindak pidana perkosaan adalah yang tertinggi.

Contoh terakhir adalah aksi tiga bocah yang belum cukup umur saat beraksi menggasak sejumlah bedak di Pasar Barat, awal Januari lalu. Bahkan, satu di antara tiga tersangka yang seluruhnya adalah warga Barat itu harus bengap dimassa. ‘’Perlu ada penanganan komprehensif untuk menyelesaikan permasalahan ini. Apalagi pengawasan dari orang tua dan sekolah juga perlu ditingkatkan,’’ ujar Kapolres Magetan AKBP Agus Santosa. (wka)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: