Angka Kriminalitas Anak Meloncak

MAGETAN – Masih ingat kasus pencurian sandal yang dilakukan AAL, 15, siswa SMK Negeri 3 Kota Palu, Sulawesi Tengah? Yang menghebohkan dunia hukum tanah air. Di Magetan, ternyata angka tindak pidana yang melibatkan anak-anak mengalami tren kenaikan. Tak tanggung-tanggung, data Sub Bagian Humas Polres Magetan mencatat ada kenaikan 500 persen pelaku tindak kejahatan yang masih berusia anak. Jumlah tersebut merupakan perbandingan angka antara tahun 2010 dengan medio 2011.

Pencurian dengan pemberatan (curat), berada di urutan teratas jenis tindak kejahatan. Setidaknya, polisi mencatat ada empat pelaku berusia bocah yang terpaksa diamankan lantaran berbuat curat. ‘’Trennya naik drastis. Curat itu biasanya dilakukan dengan mengambil sepeda motor, uang, serta benda-benda elektronik khususnya handphone,’’ kata Kasubbag Humas Polres Magetan AKP Puryanto, kemarin (16/1).

Selain curat, tindak pidana lain adalah pencurian biasa. Serta percobaan pencurian dan pencurian dengan kekerasan. Selain pelakunya yang mengalami kenaikan, korban kejahatan yang masih berusia bocah juga mengalami kenaikan. Bahkan cukup fantastis, 900 persen.

Tren kenaikan korban kejahatan yang masih berusia anak-anak adalah dalam kasus pencabulan. Dalam kasus ini, kenaikannya mencapai 400 persen. Sedangkan urutan kedua ditempati perkosaan yang naik 300 persen. Serta korban pencabutan kuasa yang sah dan membawa anak di bawah umur. Tak berhenti di situ, korban KDRT yang masih berusia bocah juga mengalami kenaikan 200 persen.

Menurut Puryanto, gaya hidup menjadi faktor utama yang memengaruhi para anak-anak itu berbuat nekat. Di samping juga faktor lainnya seperti broken home. ‘’Para pelaku itu mengalami pergaulan dengan tingkat gaya hidup yang tinggi. Sehingga dengan kondisi ekonomi yang tidak mampu menjangkau, menjadikan mereka nekat berbuat kriminal,’’ ungkapnya.

Kapolres Magetan AKBP Agus Santosa juga mengaku prihatin dengan meroketnya tren kejahatan yang melibatkan anak itu. Menurutnya, kurangnya pengawasan dari orang tua dan sekolah bisa menjadi salah satu faktor penyebab kebebasan anak-anak itu. ‘’Tentu perlu dilakukan penanganan yang komprehensif.  Dan dari kami sudah ada bimbingan serta penyuluhan di beberapa kesempatan. Terutama sosialisasi dan pertemuan-pertemuan kewanitaan,’’ terang Kapolres saat ditemui kemarin. (wka)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: