Balik Tuding Pesimistis

SMAN  1 Terkait RSBI Yang Dinilai Dipaksakan

MAGETAN – Tudingan label Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) sebagai hal dinilai dipaksakan, dianggap sebagai bentuk rasa kepesimisan segelintir pihak. Pasalnya, saat ini di Magetan, beberapa RSBI yang ada masih menjalani beberapa tahapan untuk mampu menyandang gelar SBI. ‘’Semua butuh proses. Dan tidak ada yang terkesan dipaksakan,’’ kata Pudjo Buntoro, wakasek Humas RSBI SMAN 1 Magetan, kemarin (11/1).

Memang, lanjut Pudjo, proses dari RSBI menuju SBI memakan waktu sekitar lima tahun. Dan label tersebut mulai dilaunching pemerintah sejak 2005 silam. Namun, di Magetan sendiri, lanjut Pudjo, RSBI yang ada belum ada yang sudah genap lima tahun. ‘’Untuk SMAN 1 Magetan sendiri mendapat label RSBI mulai Oktober 2010 lalu. Artinya input siswa mulai tahun ajaran 2010 belum masuk program RSBI,’’ kata Pudjo.

Dari turunnya surat keterangan itu, Pudjo mengaku jika secara praktis, RSBI SMAN 1 Magetan baru berjalan setahun setengah. Artinya, dengan tempo menuju SBI yang membutuhkan waktu lima tahun, masih banyak waktu yang bisa dilakukan untuk berbenah.

Hal senada juga diungkapkan Eko Adri Wahyudiono, penanggungjawab program RSBI SMAN 1 Magetan. Menurutnya, tudingan miring terkait ketidaksiapan RSBI di Magetan tidaklah terbukti. Untuk sumberdaya pengajar saja, dari total 76 pendidik, saat ini sudah lima guru yang bergelar S-2. Yang tengah proses menempuh S2 sebanyak 26 orang yang 16 di antaranya sudah tahap penyelesaian tesis. Termasuk satu guru yang tengah menempuh studi S3.

Artinya, berdasar hitung-hitungan masa lima tahun, Eko optimistis lebih dari 30 persen pengajar SMAN 1 Magetan sudah mengantongi ijazah S2. ‘’Kami optimistis SBI di Magetan bisa berjalan lancar. Karena semua itu butuh proses. Dan seluruh persyaratan untuk menuju SBI itu sudah kami lengkapi dalam masa lima tahun berstatus sekolah rintisan taraf internasional ini,’’ ungkapnya.

Tak hanya itu, mendapat label RSBI menurutnya bukan urusan mudah. Termasuk memiliki kelebihan lain ketimbang sekolah reguler. Pasalnya, kata dia, ada delapan standar yang harus dipenuhi untuk bisa menjadi RSBI. Yakni standar kurikulum, kegiatan belajar mengajar, pendidik dan tenaga kependidikan, pembiayaan, kualitas kepala sekolah, sarana prasarana, pengelolaan dan sistem penilaian.

Selain itu, program pertukaran pelajar saat ini juga terus ditingkatkannya. Hal itu menurutnya semakin menepis kepesimisan kegagalan SBI yang akan bercokol di Magetan. Awal Februari mendatang, Eko mengaku akan mengirimkan lima anak didiknya untuk uji kesetaraan kualitas di Surabaya. Termasuk mengirimkan sembilan siswa didiknya untuk pertukaran pelajar di Perth, Australia. ‘’Investasi pendidikan itu tidak singkat. Dan semua syarat SBI itu terus kami tingkatkan. Tentu semua itu juga memerlukan dukungan banyak pihak, termasuk dari pemerintah. Kami optimistis tak lama lagi Magetan akan ada SBI, dan anak-anak Magetan tak perlu jauh-jauh ke luar kota jika ingin sekolah di SBI,’’ tukas Eko. (wka)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: