Massa “Duduki” DPRD

Gelar Aksi Terkait Sengketa Tanah Dengan Lanud

MAGETAN – Warga Desa Setren dan Kleco, Kecamatan Bendo kembali tuntut keseriusan Pemkab dan kalangan DPRD Magetan. Itu terkait berlarut-larut serta tak kunjung selesainya permasalahan sengketa tanah warga setempat dengan pihak Lanud Iswahjudi. ‘’Kami berjuang sejak 1982 hingga sekarang. Dan tidak kunjung selesai. Tentunya kami menuntut keseriusan wakil rakyat kami,’’ kata Suwaji, salah seorang warga Setren, kemarin (10/1).

Ya, sedikitnya 21 truk bermuatan penuh massa dari dua desa tersebut kemarin memadati areal halaman gedung DPRD Magetan di Jalan Pahlawan itu. Setidaknya, aksi pagi kemarin diikuti sekitar 750 massa dari Desa Setren dan sekitar 200an massa dari Desa Kleco. ‘’Ini permasalahan serius yang harus segera diselesaikan. Apalagi tanah sengketa itu merupakan sarana masyarakat untuk bisa menyambung hidup. Ini baru massa dua desa. Kalau masih belum ada upaya dari pemerintah, massa sepuluh desa sudah siap menduduki dewan,’’ terangnya.

Menurutnya, aksi kemarin memang tergolong pengerahan massa cukup besar. Itu sebagai tindak lanjut atas aksi sebelumnya yang dirasa masyarakat setempat belum membuahkan hasil. Selain berorasi, beberapa spanduk dan poster-poster pun dipampang. Seperti bertuliskan: Kami makan nasi, bukan gula; Kami butuh status tanpa diskriminasi; Aparat adalah pelindung bukan penindas; Wakil rakyat, anda bisa karena kami; Desa Setren ini tinggalan nenek moyang, bukan tinggalan penjajah jepang, serta beberapa umpatan-umpatan lainnya.

‘’Lahan itu adalah tempat selama ini kami mencari makan. Mohon kepada wakil rakyat supaya melihat nasib kami. Kami lapar butuh makan nasi, bukan gula, apalagi berkalung tebu,’’ ucap salah seorang orator.

Tak hanya berorasi dan menggelar spanduk, ratusan massa kemarin juga melakukan aksi teatrikal yang menyimbolkan aksi arogansi aparat terhadap masyarakat. ‘’Kami putarkan lagu rukun Islam yang jadi kesukaan Pak Bupati. Jadi lagunya jangan hanya dinyanyikan saat gambyong, tetapi diresapi pula dan mohon perjuangkan nasib kami Pak Bupati!’’ ucap orator itu.

Di satu sisi ratusan massa itu melakukan orasi dan teatrikal, beberapa perwakilan warga kemarin akhirnya diterima Ketua DPRD Magetan Joko Suyono. Tak hanya ketua dewan, hadir pula saat itu Bupati Magetan H Sumantri serta Kapolres Magetan AKBP Agus Santosa.

Menurut Suryanto, kades Setren, dari pertemuan itu disepakati beberapa hal. Dan satu upaya penting yakni pembentukan tim khusus yang bersiap menyelesaikan permasalahan ini. Yang terdiri dari unsur pemerintah, perangkat desa dan masyarakat. ‘’Tim itu akan ke Jakarta untuk menyelesaikan permasalahan ini,’’ terang Suryanto.

Dijelaskannya, permasalahan tersebut sebenarnya sudah menghangat sejak 1982 lalu hingga kini. Namun, minimnya sikap pemerintah seolah membuat posisi masyarakat setempat kian tersudut. ‘’Di daerah dijelaskan jika permasalahan itu kewenangan pusat. Tapi ketika kami ke DPR-RI hingga mengirim surat ke presiden, katanya permasalahan ini menjadi urusan daerah. Artinya selama ini kami seperti dipingpong,’’ kata Suryanto.

Permasalahan itu saat ini kian menghangat lantaran adanya aksi penggarapan lahan dari pabrik gula. Apalagi, tanah tersebut selama ini juga tidak bisa disertifikat, maupun diurus izin usahanya. ‘’Memang semua ini butuh waktu. Dan kami berharap banyak dari tim ini untuk bisa segera menyelesaikan permasalahan ini tanpa mengulur-ulur lagi banyak waktu,’’ harapnya. (wka)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: