Pendirian Minimarket Bakal Di-zonasi

Digodok, Perda Penataan Pasar

MAGETAN – Pasar tradisional bisa jadi makin ditinggalkan konsumen. Itu tak pelas dari kondisi pasar yang becek dan kumuh. Belum lagi pasar modern tumbuh bak jamur dimusim hujan dan kadang lokasinya tak jauh dari pasar tradisional.

Pasar sayur penampungan, misalnya. Tidak jauh dari pintu selatan pasar berdiri minimarket modern. “Banyak  pembeli yang memilih minimarket dengan alasan lebih bersih. Sementara kami juga tak mungkin bisa berbuat banyak dengan kondisi pasar seperti ini (kumuh, Red),” keluh Sukinem, salah seorang pedangang, kemarin (30/1)

Pedagang pracangan asal Desa Terung, Kecamatan Panekan, ini juga heran dengan sikap Pemkab Magetan yang mendirikan izin pendirian minimarket yang tak jauh dari pasar tradisional itu. “Tentu konsumen lebih memilih minimarket ketimbang pasar ini,” kata Sukinem. Baca lebih lanjut

Iklan

“Harus Berinovasi dan Improvisasi”

MAGETAN – Pembangunan dan pemeliharaan alat utama sistem senjata (alutsista) menuntut efisiensi penggunaan jam terbang. Apalagi, kini ada pembatasan BBM, Hal itu diungkapkan Pangkoopsau II Marsekal Muda TNI Ismono Wijayanto saat membuka Rekernis Koopsau II di Lanud Iswahjudi, kemarin (30/1).

Menurut pangkoopsau II, efisiensi penggunaan jam terbang di prioritaskan pada “kepentingan operasi” dan maintaining skill para awak pesawat. “Oleh karena itu, para komandan satuan jajaran, terutama yang ada skadron udaranya, harus berinovasi dan berimprovisasi untuk mengambil langkah konkret,” tuturnya.

Dengan langkah konkret itu diharapkan keterbatasan alokasi jam terbang tidak mempengaruhi kemampuan awak pesawat dan misi penerbangan tak terganggu. “Tetap terlaksana dengan lancar, aman dan selamat, serta tercapainya zero accident,” ungkapnya. Baca lebih lanjut

Jagung Rusak, Rugi Jutaan

PANEKAN- Angin ribut yang melanda sejumlah kawasan Magetan pekan lalu, terus menuai dampak. Kali ini, giliran petani jagung di Kelurahan/Kecamatan Panekan, Magetan yang harus ‘buntung’ pasalnya, belasan hektare lahan di wilayah itu rusak parah diterjang angin ribut. Lahan jagung milik Gumbrek, salah satu yang terparah. Tanaman jagung usia 90 hari milik warga RT 07/ RW 01 Panekan itu roboh dan daunnya patah. “Sudah tidak ada harapan lagi untuk panen. Padahal kalau dari hitung-hitungan, 15 hari lagi bisa panen,” kata Gumbrek, kemarin (30/1).

Dia menuturkan, kejadian itu merupakan kali pertama sejak selama ini. Angin ribut pekan lalu diakuinya cukup dahsyat. “Biasanya hasil panen bisa mencapai lebih dari empat ton. Tapi saat ini satu ton saja mungkin susah. Karena pohon yang ambruk ini berat buahnya pesti menyusut,” terangnya.

Baca lebih lanjut

Akui Temukan Perubahan Spek

Ke Kejari, Iwan ‘Diantama’ Usung Juknis Kemenhub

MAGETAN- Indikasi kecurangan dalam proses tenderisasi lima titik traffic light di Magetan kian benderang. Itu setelah Direktur Utama PT Diantama Energy Prima Iwan Susanto membeber sejumlah temuan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Magetan.

Kemarin (30/1), untuk kali kedua iwan mendatangi lembaga Adyaksa itu sembari membawa setumpuk berkas. “saya sengaja serahkan bukti buku petunjuk teknis dari Kementrian Perhubungan (Kemenhub). Dari juknis ini, kejari seharusnya bisa menelisik apakah ada yang menyimpang atau tidak spek yang digunakan rekanan pemenang tender di lima titik di Magetan itu,” kata Iwan.

Iwan menuding pihak pelaksana tenderisasi tersebut sembrono dalam menyelenggarakan proses tender tersebut. Apalagi, pihaknya menemukan adanya perubahan spek setelah dilakukan retender. “Kalau mau menelisik, ada gerangan kok muncul perubahan spek setelah retender ? “, katanya.

Baca lebih lanjut

Sensasi Beda Soto Kikil tanpa Santan

NGARIBOYO- Soto kikil sudah tidak asing lagi di lidah masyarakat Magetan. Namun, berbeda jika soto kikil tanpa menggunakan santan. Menu tersebut ada di salah satunya warung soto kikil di Dusun Dakutah, Desa Sumberdukun, Ngariboyo yang diklaim merupakan makanan khas desa tersebut. “Kalau pakai santan rasanya eneg dan berpengaruh pada kolesterol,” kata Riski Anggara, salah seorang pengunjung, kemarin (29/1)

Pemuda 22 tahun ini mengaku sudah setahun terakhir ini menjadi penikmat kuliner kenyal kenyil itu. Menurutnya, bumbu yang khas ditambah hidangan soto yang disuguhkan saat masih hangat memberi sensasi tersendiri. Dan sebagai penutup, segelas air jeruk hangat bisa sebagai penawar koleterol agar tetp stabil. “Kombinasi yang klop dan saya tidak pernah bermasalah dengan kolesterol. Semua baik-baik saja,” ungkapnya.

Baca lebih lanjut

Rekrutmen Polwan Sepi Peminat

KOTA– Minat wanita di Magetan untuk menjadi anggota polisi ternyata minim. Buktinya, dari jumlah pendaftaran calon Brigadir Polisi tahun 2012 di Mapolres Magetan hingga penutupan pendaftaran pada (28/1) hanya diikuti delapan orang. Dari jumlah tersebut tiga diantaranya tidak lolos seleksi awal karena tinggi badannya dibawah 160 sentimeter.

“Dari delapan pendaftar yang maju seleksi selanjutnya hanya lima orang,” kata kabag Humas Polres Magetan, AKP Puryono, kemarin (29/1).

Dijelaskan, minimnya kuota untuk menjadi polisi wanita (polwan) itu membuat sejumlah kaum hawa pesimistis. Ini untuk seleksi di tingkat Jatim maksimal 25 orang yang bakal diterima. Sedangkan pendaftar jika diakumulasikan dari 37 kabupaten/kota di Jatim jumlahnya lebih besar. Disamping itu, persyaratan yang cukup rumit untuk dipenuhi juga menjadi faktor utama.

Baca lebih lanjut

Plafon Terminal Terancam Runtuh

KOTA – Satu-persatu fasilitas publik di Magetan mulai rapuk di gerogoti usia. Seperti yang terlihat di ruang tunggu terminal Magetan. Di terminal tersebut di temukan banyak plafon yang bolong. Sedangkan di bagian lain, plafon yang lainnya sudah menyingkap. Bukan hanya itu, kayu kasau sebagai penyangga kayu itu juga kondisinya lapuk. Pengunjung pun was-was atap itu ambrol saat musim hujan disertai angin yang melanda Magetan hingga beberapa pekan ke depan. “Kalau mendung seperti ini suka deg-degan, kalau ambrol gimana? Apalagi pas nunggu bus gak dateng-dateng,” kata Ny Kusnadi, warga Plosotinil, Panekan, kemarin (29/1)

Senada di ungkapkan Susilo, salah seorang penumpang. Dia mengaku tidak nyaman dengan kondisi itu. Apalagi kalau hujan, ruang tunggu itu sering bocor dan airnya kerap membanjiri lantai. Kondisi itu, lanjutnya harus disikapi serius oleh pemerintah setempat. Ini karena banyak penumpang yang ogah menunggu di dalam terminal-terminal karena ketidaknyamanan itu. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: