Kambing Bantuan Banyak yang Mati

MAGETAN – Lagi-lagi tentang semrawutnya bantuan kambing bantuan program Jalan Lain Menuju Kesejahteraan (jalin kesra) Pemprov Jatim. Setelah sebelumnya dikabarkan pembagian kambing dari Gubernur Jatim Soekarwo itu tidak merata, kali ini justru lebih parah. Di Kecamatan Panekan, hampir seluruh kambing bantuan itu tidak layak pelihara.
Bahkan, nyaris seluruh kambing tak bisa dimanfaatkan maksimal oleh masyarakat. Itu lantaran kondisi kambing yang berpenyakit seperti gudiken dan terlalu kurus. Bahkan tak jarang ada yang mati karena penyakitan. Kambing saya mati setelah seminggu menerima. Ya bagaimana lagi, saat menerima itu kondisinya memang sudah sakit, kata Saman, salah seorang warga Desa Rejomulyo, Panekan, kemarin (28/11).
Memang, kata dia, dalam penerimaan bantuan jalin kesra itu, dia mendapat empat kambing bantuan. Satu di antaranya mati dan tiga lainnya dinilai tidak layak untuk dipelihara. Tiga kambing lainnya ndilalah yo gudiken. Akhirnya terpaksa saya jual. Sebelumnya memang sempat tidak laku. Tapi belum lama sudah laku. Tiga ekor hanya laku Rp 300 ribu, kata Saman.
Nasib nyaris serupa juga dialami Praptono, warga Desa Rejomulyo lainnya. Dia mengaku jika dari empat kambing bantuan itu, satu ekor sudah mati, tiga hari setelah diserahterimakan. Saat serahterima itu, kami disuruh milih empat ekor. Tapi keempat-empatnya tidak ada yang layak. Akhirnya yang satu mati. Sebelumnya ya sempat saya suntikkan. Habis Rp 60 ribu, kata Praptono.
Sebagai masyarakat kecil, keadaan itu seolah membuat Praptono hanya mampu pasrah. Namun, pria 35 tahun ini berharap ke depan bantuan untuk masyarakat kecil itu tidak asal-asalan. Kalau bantuannya itu nilainya Rp 2 juta per-KK, mending uangnya itu diberikan ke kami dan kami diajak ke pasar hewan disuruh menghabiskan Rp 2 juta itu untuk beli kambing. Itu lebih efektif daripada kami diberikan kambing kurus, gudiken bahkan tak berumur panjang, geram Praptono.
Di sisi lain, kondisi tersebut diklaim sebagai bentuk karut marut bantuan langsung dari dari provinsi kepada masyarakat di daerah. Bahkan, seolah tak ada solusi, pihak Pemkab Magetan sendiri tidak ada yang berani angkat tangan dan bertanggungjawab atas kebobrokan penyaluran bantuan tersebut. Memang sangat tidak layak. Dan saya melihat sendiri kambing itu kondisinya kurang sehat. Tapi bagaimana lagi, kambing itu datang langsung ke desa tanpa ada pendampingan dari dinas provinsi. Mau protes juga tidak bisa, kata Kepala Desa Rejomulyo Sunyoto.
Dia juga berharap, bantuan tersebut bisa dikemas dengan konsep kambing lokal. Dan proses penyalurannya melalui pendampingan dokter hewan. Supaya bisa mengecek kondisi kesehatan kambing-kambing tersebut dan membuat laporannya kepada gubernur. Sehingga masyarakat tidak merasa kecele atas bantuan ini, geramnya. (wka/eba)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: